Apa Yang Dimaksud Dengan Kampanye Hitam dan Kampanye Negatif ?

Di alam demokrasi ini terutama setiap menjelang diadakannya pemilihan umum, kita sering mendengan istilah Kampanye Hitam (Black Campaign) dan Kampanye Negatif (Negative Campaign). Keduanya sama-sama cara untuk menghadapi lawan politik, namun memiliki konsekuensi yang berbeda. Black campaign maupun negative campaign sering dimunculkan melalui internet di berbagai media sosial. Juga melalui media cetak baik berupa tabloid politik maupun selebaran-selebaran pamflet.

Black Campaign atau Kampanye Hitam adalah upaya menjatuhkan lawan politik dengan mengangkat isu-isu yang tidak berdasarkan fakta maupun data. Black Campaign lebih mengarah kepada FITNAH untuk menyerang lawan politik baik secara personal maupun partai. Black Campaign/Kampanye Hitam dilarang dilakukan di Indonesia dan bisa berakibat terkena sangsi hukum/pidana.

Negative Campaign atau Kampanye Negatif pengertian mudahnya adalah membuka aib lawan politik baik itu personal maupun kepartaian dimana kekurangan/aib itu didasarkan dengan fakta maupun data. Sudah menjadi kewajaran setiap diadakan kontestansi pemilihan umum, setiap peserta kontestan selalu membuat pencitraan, hanya memunculkan hal-hal yang baik dan bahkan cenderung melebih-lebihkan. Dengan adanya negative campaign, masyarakat menjadi tahu apa kelebihan dan kekurangan kandidat yang akan dipilihnya. Negative campaign wajar dilakukan sepanjang didasari fakta maupun data, sebagai bahan pertimbangan masyarakat dalam menentukan pilihannya. Negative campaign tidak melanggar aturan KPU.

Uniknya di Indonesia isu-isu kampanye hitam (black campaign) tidak selalu dilemparkan oleh lawan politik. Bisa jadi sengaja dilempar orang-orang yang sekubu/satu barisan untuk menciptakan efek melodrama. Efek melodrama (tersakiti, terdzolimi, terfitnah) akan menimbulkan rasa iba, dan sebagian masyarakat Indonesia masih ada yang menentukan pilihan dengan dipengaruhi rasa iba terhadap kandidat yang dipilihnya dan cenderung mengabaikan sisi rasionalitas.

Pendidikan politik yang kurang dan masyarakat yang masih irasional dalam berdemokrasi, membuat subur black campaign, negatif campaign, melodrama campaign sampai penggunaan artis-artis populer tanpa pengkaderan untuk meraih suara masyarakat sebanyak-banyaknya.

credit image:freepik.com